Variaqua
01 March 2008
Baby Fish Ikan Nilem: Imut tapi Menjanjikan

Rasa yang lebih gurih, tersedia instan dan tahan lama, menjadi alasan  produk ini jadi favorit kalangan tertentu. Kendati harganya lumayan mahal.

?Baby fish goreng?. Pangan olahan ini makin digemari masyarakat, utamanya kalangan menengah ke atas. Terbukti semakin banyak produk ini hadir dalam sajian menu di hotel, restoran, bahkan sampai lapangan golf. ?Biasanya para pengunjung yang main golf memilih baby fish goreng sebagai teman menu nasi liwet,? ujar Abdulwakhid, salah seorang pengusaha baby fish olahan.
Disebut baby fish, karena bahan baku produk olahan ini adalah benih-benih ikan yang baru berukuran 5-7 cm. Ikan yang digunakan juga bisa bermacam-macam, salah satunya adalah ikan nilem.
Muhamad Husen, Ketua Forum Nilem Priangan berpendapat produk ini lebih banyak dikonsumsi sebagai camilan. Menurut dia, bila dikemas dengan apik dan proses pengolahannya terstandar, tak mustahil produk ini kelak menjadi buah tangan khas Priangan. Yang mudah diperoleh di warung maupun supermarket. ?Konon, camilan ini telah menghiasi toko-toko swalayan di berbagai kota besar,? ujar Husen.
Ikan nilem banyak dipilih sebagai bahan baku, menurut Wakhid, karena ikan jenis itu mempunyai banyak kelebihan. Ia mengaku pernah membaca hasil penelitian yang menyebutkan ikan nilem mempunyai kandungan asam glutamat tinggi. Dan faktor ini diyakini membuat rasa baby fish goreng asal ikan nilem menjadi lebih gurih, kendati tanpa penambahan penyedap rasa. ?Termasuk jika dibandingkan dengan baby fish goreng berbahan baku ikan mas atau ikan bilih,? ujarnya setengah berpromosi.

Biasa Di Restoran-Sunda Ada
Harga produk olahan ini lumayan tinggi. Tiap ons baby fish goreng ikan nilem biasa dijual dengan harga Rp 22.000 - Rp 24.000. Tak heran apabila sebagian besar penikmat makanan ini adalah dari kalangan menengah ke atas. Wakhid pun berkeyakinan, pangsa pasar produk ini masih terbuka lebar, terutama untuk wilayah Jabodetabek. ?Biasanya setiap restoran-sunda pasti menyediakan baby fish goreng,? ujarnya meyakinkan.
Sifat dari baby fish goreng yang langsung dapat dikonsumsi dan tahan lama, menjadi alasan produk ini jadi pilihan masyarakat. Ini seiring dengan preferensi  masyarakat yang semakin cenderung pada produk-produk pangan instan.
Wakhid berkisah, awalnya bisnis baby fish goreng ikan nilem banyak berkembang di wilayah Singaparna, Tasikmalaya. ?Ikan nilem adalah spesies lokal, banyak terdapat di Priangan Timur, termasuk Tasikmalaya,? tambah Dayat Bastiawan, salah seorang peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Sempur-Bogor yang juga terjun ke bisnis olahan baby fish ikan nilem.
Data dari Husen yang juga Ketua Departemen Perikanan Budidaya DPP HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia), menyebut produksi ikan nilem Jawa Barat di 2005 yang menembus 13 ribu ton, 94,2%-nya berasal dari Priangan.
 
Agar Produk Berkualitas
Menurut Dayat, untuk menghasilkan 1 kg produk baby fish goreng, dibutuhkan bahan baku tak kurang dari 3 kg benih ikan nilem. Harga benih ikan nilem ukuran tersebut berkisar Rp 12.000 ? Rp 14.000 per kg. Lebih murah ketimbang harga benih ikan mas yang mencapai Rp 17.000 - Rp 18.000 per kg. Itu juga alasan yang membuat para pengolah baby fish ini lebih memilih ikan nilem sebagai bahan baku dari pada ikan mas. ?Kualitas produk yang dihasilkan tak jauh berbeda,? ucap Dayat. Mahalnya benih ikan mas, karena harus bersaing dengan para pembudidaya KJA, yang juga membutuhkan benih ikan mas.
Agar harga produk baby fish goreng ikan nilem tetap bagus, tuntutannya adalah kualitas yang harus prima. Dan supaya baby fish goreng tetap awet dan bermutu baik, Dayat menyarankan para pengolah memperhatikan tingkat kekeringan dari produk yang dihasilkannya. ?Minyak yang terikut di ikan harus ditiriskan tuntas dengan menggunakan alat agar tidak  mudah tengik, sehingga tahan lama. Cara kerja alat pengering minyak, sama dengan alat pengering pada mesin cuci,? tutur Dayat panjang. Alhasil, produk baby fish tersebut mampu bertahan sampai 4 bulan. ?Jika tidak ditiriskan paling banter hanya tahan 1 bulan,? sambungnya.
Bentuk wajan yang digunakan pun sangat menentukan kualitas produk. Wakhid menyarankan, sebaiknya jangan menggunakan wajan yang berbentuk cekung, karena panas yang dihasilkan tidak merata sehingga produk pun matangnya tak merata. ?Untuk mendapatkan panas merata, sebaiknya gunakan wajan berbentuk persegi. Setelah ikan dicemplungkan tidak perlu banyak dibolak-balik, sehingga ikannya juga tidak bengkok?. Proses penggorengan berlangsung sekitar 1 ? jam.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Maret 2008